Makalah Fungsi Produksi dan Fungsi Biaya

Produksi adalah sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dengan alam.



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Produksi adalah sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunyamanusia dengan alam.

Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dandistribusi. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa, kemudiandikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksimelibatkan banyak faktor produksi.

Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar  jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu.Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang perilaku produsen dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan efisiensi produksinya. Dimana Islam mengakui pemilikian pribadi dalam batas-batas tertentutermasuk pemilikan alat produksi, akan tetapi hak tersebut tidak mutlak.

Istilah biaya bisa diartikan dengan sebagai cara dan pengertian yang
tepat akan berubah-ubah, tergantung pada bagaimana penggunaan biaya
tersebut. Biasanya, biaya berkaitan dengan tingkat harga suatu barang yang harus
dibayar. Jika kita membeli sebuah produk secara tunai dan kemudian segera
menggunakan produk tersebut, maka tidak akan ada masalah yang timbul dalam
pendefinisian dan pengukuran biaya produk tersebut.

B.    Rumusan Masalah

A. Apa pengertian dari Fungsi Produksi ?
B. Jelaskan mengenai Produksi dengan satu input variabel ?
C. Jelaskan mengenai Tahap – tahap produksi ?
D. Apa yang di maksud Produksi dengan input dua variabel ?
E. Apa pengertian dari Fungsi produksi Cob- Douglas ?
F. Apa pengertian dari Fungsi Biaya ?
G. Apa Perbedaan biaya dalam jangka pendek dan jangka panjang ?


BAB II
PEMBAHASAN


A. FUNGSI PRODUKSI

Teori produksi merupakan teori pemilihan atas berbagai alternatif, terutama menyangkut keputusan yang diambil oleh seorang produsen dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif yang ada. Produsen berusaha dalam memaksimalkan produksi yang dapat dicapainya dengan suatu kendala biaya tertentu agar dapat dihasilkan keuntungan yang maksimal.

faktor produksi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan produk yang dihasilkan. Produk sebagai output (keluaran) dari proses produksi sangat tergantung dari faktor produksi sebagai input (masukan) dalam proses produksi tersebut.

Untuk memproduksi suatu barang atau jasa, perusahaan memerlukan sumber atau faktor produksi. Hal ini berarti nilai produk yang dihasilkan tersebut tergantung dari nilai faktor produksi yang dikorbankan dalam proses produksinya. Keterkaitan antara nilai produk (output) dengan nilai faktor produksi (input) dalam proses produksi itu disebut fungsi produksi.

Secara metematik hubungan antara faktor produksi dan produk itu dapat dituliskan sebagai berikut:
Q = f ( K, L , T , N )

Fungsi produksi yang disusun dalam persamaan matematik di atas mengandung arti bahwa barang/jasa yang dihasilkan (Q) merupakan akibat dari masukan (K, L , T , N) yang diproses.

Jika salah satu sumberdaya masukan diubah maka keluaran (output) akan berubah
Fungsi produksi berkaitan dengan hubungan antara input dan output yang dihasilkan. Hubungan tersebut dapat ditunjukkan secara matematis.

Fungsi produksi membatasi tercapainya profit maksimum karena terbatasnya teknologi dan pasar yang akan berpengaruh pada biaya produksi, output yang dihasilkan, dan harga jual output. Produsen biasanya dapat melakukan variasi ataupun perubahan dalam penggunaan proporsi input untuk menghasilkan suatu output. Fleksibilitas ini memungkinkan berbagai macam hubungan antara input dan output.

Hubungan antara input dan input, input dan output, serta output dan output yang menjadi karakteristik dari fungsi produksi suatu perusahaan tergantung pada teknik produksi yang digunakan. Semakin maju teknologi yang digunakan maka output yang diproduksi semakin meningkat dengan jumlah input tertentu.


B. Produksi dengan satu input variabel (Analisis Jangka Pendek)

Adalah hubungan antara tingkat produksi dengan satu macam faktor produksi yang digunakan , sedangkan faktor faktor produksi yang lain dianggap penggunaannya tetap pada tingkat tertentu (ceteris paribus).

Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan :
“Y = f (X1/ X2, X3, ….., Xn)”

Produk Y adalah fungsi dari faktor produksi X1, jika faktor-faktor produksi X2, X3, ……, Xn ditetapkan penggunaannya pada suatu tingkat tertentu. Jadi, satu-satunya faktor produksi yang dapat diubah jumlah penggunaannya adalah  faktor produksi X1.


C. Tahap – Tahap produksi
               
Untuk kasus umum dan bila dianggap  penambahan factor produksi brsifat kontinyu.
Ada 3 tahap penting dari gerakan perubahan Nilai Total Produksi.
Yang pertama , pada saat Marginal Prduksi maksimum ( titik 1 dan 4 )
Kedua ,pada saat Rata – Rata Produksi Maksimum (titil 2 dan 5).
Ketiga pada saat MP = 0 atau Total Produksi maksimum ( titik 3 dan 6).

Selanjutnya diagram tersebut dapat kita bagi menjadi tiga tahap produksi ( The three stages of production ):
1.     Tahap I sampai pada saat kondisi AP ( Rata – rata produksi ) maksimum.
2.    Tahap II antara AP ( Rata – rata produksi ) maksimum sampai saat MP ( Marginal Produksi ) sama dengan Nol.
3.    Tahap III saat MP ( Marginal Produksi ) sudah bernilai <Nol (negative )
Penahapan ini berguna untuk memahami pada tahap mana perusahaan berproduksi.


D. Produksi dengan dua input variabel (Analisis Jangka Panjang)

Dalam analisis ini dimisalkan hanya ada dua faktor produksi yang dapat diubah-ubah penggunaannya di dalam proses produksi. Dimisalkan pula bahwa kedua faktor produksi tersebut dapat saling menggantikan.

Misalnya, faktor produksi X1 dapat menggantikan faktor produksi X2, demikian pula sebaliknya X2 dapat menggantikan X1. Dalam proses produksi yang digunakan dua input variabel, alat analisis yang digunakan untuk melihat hubungan fungsional antara output dan input adalah garis isoquant.

Garis Isoquant/Isoproduct/Kurve Produk adalah  garis yang menunjukkan berbagai kemungkinana kombinasi 2 input yang menghasilkan jumlah produksi (output) yang sama besar.


Dari tabel di atas dapat digambarkan dua isoquant untuk dua output, yaitu untuk 100 unit dan 150 unit.Isoquant mempunyai sifat-sifat yang serupa dengan Indifference Curves. Cembung kearah origin, menurun dari kiri atas ke kanan bawah, kurve yang terletak lebih kanan atas menunjukkan tingkat output yang lebih tinggi.


Isoquant bisa juga didapatkan dari fungsi produksi. Misalnya kita mempunyai
fungsi produksi Y = 2X1 + 4X2.
Dari fungsi ini kita ingin mendapatkan isoquant
untuk output (Y) = 100 unit.
Fungsi tersebut menjadi : 100 = 2 X1 + 4 X2;
kemudian diselesaikan untuk berbagai tingkat X1 dan X2 sebagai berikut:


2 X1 = 100 - 4 X2 ;
X1 = 50 – 2 X2.
Dari persamaan ini bisa diperoleh berbagai nilai


Data pada tabel tersebut dapat digambarkan ke dalam kurve isoquantnya. Dengan
cara yang sama dapat dibuat isoquant untuk Y = 150 ; 200; dan seterusnya.


E. Fungsi produksi Cob – Douglas


Untuk memperjelas ketiga konsep di atas fungsi Cobb-Douglas sangat membantu :
Q = f(L, C)
Q = b0 Lb1 Cb2
Keterangan Parameter
Parameter b0, b1 dan b2 dapat ditentukan melalui Ekonometrika  denganketentuan data variabel Q, L dan C tersedia dengan cukup Parameter b0 merupakan indeks efisiensi produksi atas penggunaan input L dan C, makin tinggi nilai b0 Þ makin tinggi efisiensi  proses produksinya Misalnya, Perusasahaan A da  B memproduksi output yang sama:
QA = 5 (L, C)           QB / (L,C) = 10            
Perusahaan B lebih efisien dari perusahaan A, karena produktivitasnya  lebih besar  :
                        QB = 10 (L, C) >  QA / (L,C) = 5

Parameter b1 dan b2

-           Fungsi Cobb-Douglas yang asli,  b1 + b2 = 1
 Dalam perkembangannya b1 dan b2 bisa > 1 atau < 1
    -  Menggambarkan hubungan antara variabel L dan C :
 Jika  :  b1 > b2 ®  Produksi Padat Karya
              b1 < b2 ®  Produksi Padat Modal
-           Ditafsirkan sebagai koefisien Elastisitas Produksi (h) dari
   masing-masing input (L dan C) :

jumlah b1 + b2  :   berkaitan dengan hukum perluasan produksi,
     yaitu berapakah output akan mengganda kalau semua inputnya digandakan sebanyak “n” kali
     Jika  :  b1 + b2 >  1 ®  Output akan mengganda lebih dari sebanding (IRS)
                 b1 + b2 <  1 ®  Output akan mengganda kurang dari sebanding (DRS)
                 b1 + b2 = 1  ®  Output akan mengganda  sebanding (CRS)

Atau dengan kata lain jika L dan C digandakan n kali, Q akan berganda sebanyak n(b1+b2). Jika b1+b2 = l, maka
nl Q = f( nL, nC ) ® l  =  b1 + b2

Jadi, jika fungsi produksi :
  Q = b0 Lb1 Cb2
  n l Q = b0 ( n L )b1 ( n C )b2
  n l Q = b0 nb1Lb1 nb2Cb2
  n l Q = (b0 Lb1 Cb2) nb1+b2
  n l Q = Q nb1+b2
      l  =  b1 + b2   (terbukti)


F. Fungsi Biaya


Konsep biaya produksi yang digunakan dalam analisa ekonomi berbeda dengan konsep biaya yang biasa digunakan secara umum. Konsep ekonomi mengenai biaya lebih konsisten dan tetap.
Biaya produksi merupakan faktor utama dalam menentukan jumlah barang atau jasa yang akan dijual di pasar.

Untuk mengetahui penawaran dan jumlah barang yang ditawarkan harus mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan,yang berasal dari prinsip produksi.

Para ekonom mendefinisikan biaya produksi untuk suatu output tertentu sebagai nilai yang harus dikorbankan dari alternatif produksi yang menggunakan input dimana input tersebut digunakan untuk memproduksi output tertentu.

Prinsip ini dikenal dengan nama “opportunity cost principle”.


Jenis-jenis Biaya


1. Berdasarkan fungsinya,

a. Biaya langsung yaitu biaya yang langsung masuk dalam proses produksi suatu barang, bahan baku, tenaga kerja dll.
b. Biaya tidak langsung Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mendukung proses produksi misalnya biaya telepon, listrik, iklan dll.

2. Berdasarkan sifatnya,

a. Biaya eksplisit yaitu biaya yang muncul/kelihatan dalam proses produksi.
b. Biaya implisit yaitu biaya yang tidak kelihatan dalam proses produksi namun sebenarnya ada dan dikeluarkan.

3. Berdasarkan kaitannya dengan jumlah produksi
a. Biaya Tetap ( Fixed Cost = FC ) Yaitu biaya yang tidak bertambah seiring dengan pertambahan produksi. Biasanya hanya muncul pada saat pertama akan berproduksi, gedung, mesin berat, dll
b. Biaya Variabel ( Variabel Cost = VC ) Yaitu biaya yang bertambah seiring dengan bertambahnya unit barang yang diproduksi.

Selain itu, dalam konsep biaya ada beberapa hal lain yang perlu diketahui adalah tentang biaya total, biaya perunit, dan biaya marginal.
1. Biaya Total ( Total Cost = TC ) adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi sampai terciptanya barang. TC = TFC + TVC.
2. Biaya Perunit (Average Cost = AC) Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit barang jadi. AC = TC / Q.
3. Biaya Marginal ( Marginal Cost = MC ) Tambahan biaya karena menambah 1 unit barang yang diproduksi.

Isocost dan Isoproduct
1. Isoproduct adalah kurva yang menghubungkan kombinasi antara faktor produksi ( L & K ) yang mampu memproduksi sejumlah barang tertentu. Sifat Isoproduct sama dengan Kurva Indiferent.
2. Isocost adalah garis yang menghubungkan kombinasi faktor – faktor produksi ( K & L ) pada tingkat pengeluaran biaya tertentu.Seperti dalam budget line. Isocost mempunyai daerah yang feasible.

Suatu perusahaan berada pada kondisi produksi optimum apabila terjadi persinggungan antara Isocost dan Isoproduct.

G. Perbedaan Biaya dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Apabila masing – masing keseimbangan dihubungkan akan terbentuk jalur perluasan produksi dalam jangka panjang. Fungsi Produksi dibedakan menjadi :
1. Jangka Pendek : Jika terdapat fixed dan variable cost.
   Dalam jangka pendek berlaku hukum The Law of Deminishing Return ( Hukum kenaikan yang semakin menurun ).
   Yaitu Jika dalam proses produksi terdapat input tetap / Fixed Cost ( artinya produksi masih dalam jangka pendek ) , Apabila semakin banyak input variabel yang digunakan, maka output akan bertambah dengan pola pertambahan yang menunjukkan:
1. MP naik, maksimum lalu turun sampai nol dan akhirnya negatif The law of Deminishing Marginal Return
2. AP mula-mula naik, maksimum lalu turun tapi tidak menjadi negatif disebut The Law of Deminishing Average Return


2. Jangka Panjang : Jika semua fixed cost sudah menjadi variable cost.
Dalam menganalisa biaya umumnya tidak terlepas dari analisa penerimaan atau revenue atau total revenue. Pengertian revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu. Secara matematik total revenue dirumuskan sebagai berikut:
* TR = PQ.          * AR = TR/Q
*  MR = ∆TR/∆Q     atau  turunan dari TR
 ∆TR = Tambahan penerimaan,  ∆Q = Tambahan Produksi. Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya :
TR < TC  = keadaan untung / laba
TR= TC   = keadaan  Break Even Point
TR > TC  = Keadaan rugi.


Contoh Soal:
Sebuah pabrik Sandal dengan Merk " Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) = 1.000.000; biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal tersebut dijual dengan harga Rp 1.000, maka:
Ditanya:
a. Fungsi biaya total (C), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b. Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP
c. Untung atau rugikah apabila memproduksi 9.000 unit

Jawab:
a. FC = Rp 1.000.000
    VC= Rp 500.
    Fungsi biaya variabel VC = 500  Q ..........................................................................(1)
    Fungsi biaya total C = FC + VC     -----> C = 1.000.000 + 500 Q ..........................(2)
    Fungsi penerimaan total  TR = P.Q -----> TR = 1.000 Q ..........................................(3)

b. Break Even Point terjadi pada saat TR = TC
    1.000 Q  = Rp 1.000.000 + 500 Q
    1.000 Q - 500 Q = 1.000.000
     500 Q = 1.000.000
     Q = 2.000 unit
    Pabrik roti akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
    Pada biaya total  C = 1.000.000 + 500 ( 2.000)
                              C = 2.000.000

c. Pada saat memproduksi Q = 9000 unit
    TR = P.Q
          = 1.000  X  9.000
          = 9.000.000

    C  = 1.000.000 + 500 (Q)
         = 1.000.000 + 500 ( 9.000)
         = 1.000.000 + 4500.000
         = 5.500.000

    Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.
    laba = TR - TC
           = 9.000.00 - 5.500.000
           = 3.500.000

    Bila hanya memproduksi 1.500 unit maka akan mengalami kerugian sebesar :
    Rugi = TR - TC
            = 1.000 (1.500)  - 1.000.000 + 500 ( 1.500)
            = 1.500.000 - 1.750.000
            = 250.000



BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Biaya produksi yang terlalu tinggi akan berakibat harga pokok produksinya menjadi besar dan hal ini akan mengakibatkan tingginya harga jual produk, sehingga akan tidak terjangkau oleh konsumen. Inilah yang merupakan tugas dari bagian produksi.
Tugas-tugas tersebut akan dapat terlaksana dengan baik dengan mengacu pada pedoman kerja tertentu. Semoga penulisan yang saya buat dapat bermanfaat.

Saran

Jumlah produk yang dihasilkan sebaiknya direncanakan dengan baik agar tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit, agar tidk bertumpuknya hasil produksi digudang. Kegiatan produksi ini harus direncanakan dengan matang agar tidak menghasilkan produksi yang jelek.